Artikel ini kami buat atas dasar rasa keprihatinan kami terhadap sifat buruk yang sering terjadi bahkan menjadi hal umum di kalangan masyarakat kita. Zaman sekarang banyak sekali orang-orang yang memiliki sifat munafik bahkan tidak menutup kemungkinan orang yang alim pun bisa memiliki sifat buruk tersebut. Sifat munafik adalah salah satu sifat Iblis yang di benci oleh Allah SWT bahkan bukan hanya munafik manusia pun sudah berani sombong kepada Allah dengan enggan beribadah kepada Allah padahal manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Kajian ayat:
“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya Neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 206)
Allah mengabarkan bahwasannya orang- orang munafik jika dinasehati dan diperintah bertaqwa mereka sombong dan tetap dengan dosa, dan balasan bagi mereka adalah neraka jahanam. Orang tersebut menggabung antara dua sifat buruk: suka bermaksiat dan sombong ketika dinasehati.
Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, timbulnya kesombongan yang menjadikannya menolak nasehat disebabkan dosa yang ada dalam hatinya berupa kenifakan. Pendapat lain mengatakan yakni kecongkakan dan kekerasan jiwa membawanya kepada perbuatan dosa. Dan yang lain mengatakan yakni berbuat kekufuran karena kesombongan dan merasa memiliki kemuliaan.
Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir:
(Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia) Ini merupakan tabiat manusia secara umum.
(ia berpaling) Yakni berpaling dari rasa syukur.
(dan menjauhkan diri) Yakni angkuh dan sombong serta enggan untuk melakukan ketaatan. -(tetapi apabila ia ditimpa malapetaka) Yakni musibah, kesulitan, kemiskinan, dan penyakit.
(maka ia banyak berdoa) Yakni jika dia tertimpa keburukan maka dia tunduk kepada Allah dan memohon pertolongan dari-Nya dengan harapan dapat diangkat apa yang telah menimpanya, dia akan berulang-ulang melakukan ini. Dia mengingat Allah dikala tertimpa musibah dan melupakan-Nya dikala lapang; dia memohon pertolongan ketika musibah datang dan meninggalkan- Nya ketika mendapat kenikmatan. Ini merupakan perbuatan orang-orang kafir, serta orang-orang Islam yang tidak kokoh dalam agamanya.
Bila si munafik perusak tersebut dinasihati, dikatakan kepadanya: Takutlah kamu kepada Allah dan waspadailah hukuman- Nya, hentikanlah pengrusakan di bumi. Maka dia tidak mau menerima nasihat. Sebaliknya kesombongan dan fanatisme jahiliyahnya bisa mendorongnya untuk melakukan dosa-dosa lebih. Maka cukuplah Jahanam baginya sebagai siksa dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Kesimpulannya adalah bahwa orang-orang munafik cenderung sombong dan menolak nasehat ketika mereka dinasihati untuk bertaqwa. Mereka terperangkap dalam dosa dan keangkuhan yang menghalangi mereka dari penyesalan dan perubahan. Meskipun diberikan nasihat untuk takut kepada Allah dan menghindari hukuman-Nya, sikap kesombongan dan fanatisme jahiliyah mereka mendorong mereka lebih dalam ke dalam dosa. Akibatnya, neraka jahanam menjadi tempat kembali yang layak bagi mereka. Dalam kesulitan, mereka berdoa kepada Allah, namun dalam kemakmuran, mereka melupakan-Nya. Ini menegaskan bahwa kekokohan dalam iman sangat penting, dan kesombongan serta ketidakmampuan untuk menerima nasehat dapat menjadi jalan menuju kebinasaan.
Source: Indah Zakiah H, Kaisha Syifa M, Rizlan Ariyanto dan Yusuf Fatir H.
